Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Pesona Wisata Kabupaten Pasuruan

Pasuruan Maslahat, Maju, Aman, Sehat Lahir Batin, Adil dan Bermartabat.

Friday, April 24, 2015

Bukit Flora



Terpesonalah oleh Kecantikan 30 koleksi bunga krisan dan anggrek yang sangat menarik perhatian. Green House Flora yang dipenuhi dengan tanaman anggrek dan krisan cantik yang tertata rapi akan memanjakan mata anda. Bukit flora adalah lahan seluas 2 hektar dengan fasilitas kebun bunga, outbound area, kolam renang, permainan ketangkasan, permainan keseimbangan dan masih banyak lainnya. Bila anda berkunjung, maka anda akan diajarkan tentang bagaimana cara menanam bunga sekaligus mengenali nama-nama jenis bunga yang dipandu oleh staff Bukit Flora sendiri. Tidak hanya berbagai jenis bunga saja, disini anda juga dapat menemukan berbagai jenis tanaman sayur mayur dan buah-buahan yang ditanam dengan perawatan maksimal. Bila berbuah anda dapat memetik langsung dan menikmati hasilnya, mengasikkan bukan ? :) 

Bagi anda yang mempunyai jiwa seni, anda juga dapat bergabung di sanggar kerajinan topeng yang disediakan oleh Bukit Flora. Di sanggar tersebut anda dapat menuangkan jiwa seni yang anda miliki. Peternakan kelinci juga dapat anda temukan di Bukit Flora, sehingga anda dapat bermain bersama 20 spesies kelinci yang terawat sehat dan siap jual. 

Lokasi : Desa Ngembal Kecamatan Tutur

Transportasi umum : Naik L300 rute Pasar Purwodadi menuju pasar Nongkojajar kemudian turun Bukit Flora

Jam Operasi : 08.00-16.00 WIB

Tiket : Rp 15.000

Rekomendasi : Wisata keluarga, wisata anak-anak, wisata edukasi

Tuesday, April 21, 2015

Prasarti Cungrang


Prasasti Cungrang merupakan peninggalan dari Mpu Sindok yang bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa yang memerintah Kerajaan Medang dari tahun 929 hingga 947 dan memindahkan kerajaan Medang dari Poh Pitu, Kedu ke Watugaluh Jawa Timur. Menurut teori Van Bemmelen ada dugaan perpindahan tersebut dikarenakan Bencana Alam (letusan Gunung Merapi) yang mengakibatkan kehancuran Kerajaan dan sector perekonomian kerajaan Medang.Prasasti Cungrang ini dikeluarkan pada hari Jum’at Pahing tanggal 12 Suklapaksa tahun 851 Saka atau pada tanggal 18 September 929 Masehi. Isi dari Prasasti ini menggunakan bahasa sansekerta yang berisi Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa (Mpu Sindok) menurunkan perintah kepada Mpu Kuala agar Desa Cungrang yang termasuk wilayah Bawang di bawah pemerintahan Wahuta Wungkal dijadikan Sima atau tanah perdikan untuk pertapaan di Pawitra dan prasada silunglung. Dari isi prasasti itu ada dua nama tempat yang perlu mendapat perhatian yaitu Cungrang dan Pawitra. Keberadaan Prasasti Cungrang ini dahulu sampai dengan sekarang dipercayai oleh masyarakat sebagai "Cikal Bakal" berdirinya wilayah Pasuruan. 

Lokasi : Balai Dusun Sukci Desa Bulusari Kecamatan Gempol

Transportasi : -

Jam Operasi : 08.00 - 16.00 WIB

Tiket masuk : Gratis

Rekomendasi : Wisata sejarah

Majid Muhammad Cheng Hoo



Keberadaan Majid Cheng Hoo Pandaan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang melintasi jalan arteri primer Surabaya-Malang. Arsitek bangunan unik yang memadukan unsur -unsur budaya islam, budaya jawa dan gaya Tionghoa terlihat dari sentuhan warna-warna terang seperti hijau, kuning dan merah. Sementara dari sisi lain perpaduan Jawa dan Islam terlihat pada atap joglo dan juga ornamen-ornamen yang terlihat pada tepian atas. 

"Masjid Muhammad Cheng Hoo". Nama masjid tersebut digunakan sebagai bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Hoo asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya sekedar berdagang tetapi sekaligus sebagai penyebar agama Islam. Oleh karena itu untuk mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Hoo maka dibangunlah masjid yang bernama “Masjid Muhammad Cheng Hoo”. 

Lokasi : Desa Kasri Kecamatan Pandaan

Transportasi : Bus arah Surabaya-Malang atau Malang-Surabaya

Jam Operasi : 24 jam

Tiket masuk : Gratis


Rekomendasi : Wisata religi

Candi Jawi


Candi Jawi dibangun pada abad ke-13 dan merupakan peninggalan bersejarah Kerajaan Hindu Budha Singasari. Banyak yang menduga bahwa Candi Jawi adalah tempat pemujaan atau tempat peribadatan. Tapi yang sebenarnya Candi Jawi adalah tempat penyimpanan abu dari raja terakhir Singasari yaitu Kertanegara. Bentuk Candi Jawi berkaki Siwa berpundak Budha. Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah dengan luas 14,24 x 9,55 meter dan tinggi 24,50 meter. Arsitek budha tampak dari puncak candi yang berbentuk seperti stupa.

Adapun ciri bangunan hindu terlihat dari bagian badan dan bawah candi. Pintu candi menghadap ke Timur menunjukkan bahwa Candi Jawi bukan tempat pemujaan atau pradaksina. Keunikan lainya yang dapat anda temukan pada Candi Jawi adalah jenis batu yang digunakan terdiri dari dua jenis. Bagian bawah candi batu yang digunakan berwarna hitam, sedangkan bagian atas berwarna putih. Keunikan tersebut mengindikasikan bahwa adanya dua periode dalam pembuatan Candi Jawi. 
         


Lokasi : Desa Wates Kecamatan Prigen

Transportasi : Naik L300 dengan rute prigen turun langsung Candi Jawi

Jam Operasi : 08.00 - 16.00 WIB

Tiket masuk : Gratis


Rekomendasi : Wisata keluarga, wisata anak-anak, wisata edukasi

Monday, March 16, 2015

Irsyad Canangkan Dusun Sejo sebagai Kampung Budaya

Dusun Sejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol dicanangkan oleh Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf, sebagai Kampung Budaya Kabupaten Pasuruan.

Tepatnya Minggu, (28/12) pagi, dengan didampingi Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Sudiono Fauzan, Asisten II Sekda Kabupaten Pasuruan, Achmad Zainuddin, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pasuruan, Heri Yitno dan Kabag Perekonomian, Sumantri, Irsyad melakukan pemukulan gong dan penandatanganan prasasti, sebagai tanda dicanangkannya Dusun Sejo sebagai Kampung Budaya-nya Kabupaten Pasuruan.

“Semoga dengan pencanangan ini, seluruh warga Sejo bisa terus bersemangat menjadikan Kampung ini sebagai gudangnya kebudayaan di Kabupaten Pasuruan,” ucap Irsyad sebelum memukul gong tanda pencanangan telah dilakukan.

Setelah dicanangkan, Pemerintah Kabupaten Pasuruan berencana akan memberikan perhatian dalam bentuk bantuan keuangan. Kata Irsyad, bantuan tersebut disesuaikan dengan tingkat kebutuhan, baik dalam hal pembangunan sarana prasarana maupun bantuan yang lain.

“Kita lihat dulu seperti apa bantuan yang dibutuhkan oleh warga. Apakah sarana prasarana umum atau yang lainnya. Ada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang akan memback up ini,” imbuhnya kepada Suara Pasuruan.

Sementara itu, untuk menjadikan Dusun Sejo sebagai Kampung Budaya, warga akan mengerahkan tenaga untuk mempercantik kampungnya, baik dengan lukisan tembok, jalan yang berwarna-warni, serta berbagai macam kerajinan tangan yang dipajang di depan rumah masing-masing warga. Jupri Abdullah selaku Kreator Kampung Budaya Sejo menegaskan, Kampung Budaya adalah perwujudan upaya untuk menggeliatkan kearifan budaya local yang sepertinya sudah mulai banyak ditinggalkan oleh generasi muda, salah satunya adalah seni lukisan.

“Contohnya saja kesenian Jaran Kepang yang sudah tidak dilirik oleh anak-anak muda. Padahal itu adalah kesenian yang juga mengandung unsur olahraga. Maka dari itu, saya mengangkat kampung ini dengan harapan dapat ditiru oleh kampung yang lainnya,” jelasnya.

Pencanangan Dusun Sejo sebagai Kampung Budaya Kabupaten Pasuruan diisi dengan banyak hiburan yang dipersembahkan oleh warga,mulai dari anak-anak sampai remaja. Sebut saja Tari Remo,  Jaranan, Legong, Lilin, Reog, kemudian Pembacaan Puisi Budaya, Orkes Dangdut, serta Penghargaan Kampung Budaya Award yang diberikan Kepada Dalang Ki Darto Waluyo atas dedikasinya di dunia pewayangan

Minta Keselamatan, Warga Puspo Gelar Gadeso

Ratusan warga Desa Puspo, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan menggelar Gadeso atau Selamatan Desa, Kamis (22/01).

Tradisi yang dilakukan setiap tahunnya itu dilaksanakan di Balai Desa Puspo, di mana puluhan ancak dari 8 dusun di Desa Puspo, dipertontonkan di hadapan warga maupun para wisatawan yang datang ke sana. Ada berbagai model ancak seperti binatang kuda, burung garuda, macan putih, dan lain sebagainya, dan semuanya dibawa dari tempat tinggal warga menuju balai desa.

Bagus Tranggono, Ketua Panitia Gadeso mengatakan, Gadeso adalah ritual yang dilakukan masyarakat Puspo, dengan tujuan meminta keselamatan desa dari segala penyakit, hingga malapetaka berupa bencana.

“Kita ketahui sendiri bahwa Puspo termasuk daerah pegunungan yang juga rawan bencana longsor. Maka dari itu, ritual ini sengaja dilakukan dalam rangka meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar desa kami terus diberikan keselamatan, kesehatan dan kemakmuran,” katanya kepada Suara Pasuruan.

Dari pantauan di lapangan, tampak bermacam-macam makanan mulai kue hingga nasi termasuk ikan (lauk) dari segala jenis, lengkap ditempatkan di ancak yang digotong sebagai wujud kebersamaan warga. Sebelum di bagikan warga dengan cara merebutnya dengan sesuka hati, ancak itu di ritual terlebih dahulu dengan mantra-matra dan doa.

“Tradisi ini dilakukan turun temurun sejak dahulu kala dan digelar setiap tiga tahun sekali. Dan warga disini menyebutnya tradisi Gadeso,” tutur Bagus di sela-sela acara.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan Trijono Isdijanto mengaku keberadaan selamatan desa tersebut bagian dari warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan.

 “Kegiatan ini bisa menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Pasuruan. Makanya warisan budaya ini harus dilestarikan,”pungkasnya. 

Pemkab Pasuruan akan jadikan Prigen sebagai Kawasan Wisata Keluarga

Pemerintah Kabupaten Pasuruan akan menjadikan Kecamatan Prigen sebagai Kawasan Wisata Keluarga.

Hal tersebut seperti yang disampaikan Trijono Isdijanto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, di sela-sela kesibukannya, Senin (26/01). Menurutnya, Kecamatan Prigen memiliki banyak potensi pendukung untuk menuju Kawasan Wisata Keluarga, diantaranya udara bersih dan segar serta panorama alam yang indah, infrastruktur yang mendukung, sarana transportasi yang memadai, tersedianya penginapan dan kuliner yang bervariasi, serta akses kemudahan menuju prigen itu sendiri.

“Prigen memiliki potensi wisata alam yang luar biasa, mengingat posisinya di lereng Gunung Arjuno dan Welirang. Penduduknya juga masih didominasi oleh kalangan menengah ke bawah, dan yang paling utama karena Prigen memiliki banyak pilihan villa ataupun hotel yang sangat menunjang untuk kegiatan wisata,” ujar Trijono kepada Suara Pasuruan.

Dari semua potensi pendukung tersebut, Tahun 2018 adalah tahun dimana Prigen akan berubah drastis menjadi kawasan wisata keluarga impian. Di dalamnya, diharapkan akan tersedia Recreational Park atau Wahana Rekreasi yang memiliki sarana mainan air dan alam, sarana olahraga, serta sarana gardu pandang dengan teleskop tele. Selain itu, Prigen akan mempunyai kebun bunga yang sangat lengkap, ditambah dengan pasar buah dan wisata seni budaya.

“Dulu Prigen pernah memiliki sebuah gedung yang dinamai The Window of the World. Dari situlah, kita ingin menghidupkan Prigen dengan sebesar-besarnya, melalui publikasi sebanyak-banyaknya,” imbuh Trijono.

Hanya saja, sampai saat ini, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, utamanya dalam hal merubah Mindset masyarakat akan  Prigen yang terkenal dengan wisata seksual. Kata Trijono, tahun ini pihaknya akan melakukan kajian dengan Bappeda Kabupaten Pasuruan perihal design dan pola pembangunan kawasan wisata keluarga. Selain itu, seluruh elemen masyarakat terkait akan dilibatkan, seperti PHRI (Persatuan Hotel dan Resort Indonesia), Kominfo, Koperasi, Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Pasuruan,Travel Agent, Disperindag, Badan Perijinan Penanaman Modal, PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang), Pengusaha hingga KADIN (Kamar Dagang Industri).

“Masih melekatnya image prigen sebagai kawasan seksual itulah yang menjadi PR yang harus segera dituntaskan. Semua masyarakat di Prigen harus menyatukan pikiran demi menjadikan prigen sebagai kawasan wisata keluarga,” akunya.

Apel Nongkojajar Digilai Wisatawan Nasional

Apel “Rome Beauty” khas Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan semakin digilai penikmat petik buah nasional.

Ratusan hektar perkebunan apel yang terbentang luas di 8 Desa, menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik, seperti Jakarta, Surabaya, Banyuwangi, dan beberapa kota besar di Indonesia. 

Seperti yang terlihat Rabu (18/02), di mana ratusan penyuka apel datang khusus ke Desa Kayukebek, untuk merasakan sensasi memetik sekaligus makan apel yang sudah masak pohon, langsung dari kebunnya.

Atik Chandra (35), salah seorang wisatawan asal Jakarta mengaku kagum dengan apel yang ada di Kecamatan Tutur. Menurutnya, apel yang ada di Tutur tidak ada bandingannya dengan yang ada di daerah lain seperti Batu dan Malang.

“Apel yang ada di Tutur besar-besar dan warnanya sangat menggoda yakni merah menyala. Apalagi rasanya yang super duper manis, membuat kami ketagihan untuk nanti akan kembali ke sini, dengan membawa teman yang lebih banyak,” kata Atik yang tak puas melihat bentangan kebun apel yang siap dipanen.

Atik sendiri mengetahui potensi apel di Tutur, setelah browsing di internet. Kata dia, apel yang ada di Tutur ternyata menjadi pasokan untuk para penjual apel yang ada di Batu. 

“Saya kaget ternyata yang ada di Batu itu ngambilnya di Tutur. Pantesan petani apel di sini kaya-kaya,” singkatnya setelah ngobrol-ngobrol dengan Munir, salah seorang pemilik kebun apel.

Selama di Tutur, Atik mengaku memborong puluhan kilo apel Rome Beauty, untuk selanjutnya dibawa sebagai oleh-oleh saat kembali ke Jakarta. Banyaknya apel yang diborongnya tak lain karena harga apel Rome Beauty yang sangat murah, yakni cuma Rp 15.000 per 1 kilogramnya.Berbeda dengan Apel jenis Ana dan Manalagi yang dijual dengan harga masing-masing Rp 10.000 dan Rp 8000/kg.

“Apalagi harga apelnya murah, wah kalau gak borong banyak, rasanya pasti akan menyesal. Pokoknya hari ini kami sekeluarga senang sekali bisa datang ke Tutur ini, belum lagi kami juga akan membeli Strawberry dan Bunga Krisan yang juga banyak ditanam di Tutur,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf menegaskan , Apel Tutur atau yang popular disebut dengan Apel Nongkojajar adalah salah satu Ikon Buah Khas Kabupaten Pasuruan, disamping Mangga Gadung Klonal khas Kecamatan Rembang dan Sukorejo, Srikaya Khas Rembang, dan Durian Khas Kecamatan Purwodadi dan Pasrepan.

“Kabupaten Pasuruan kaya akan potensi alam dan hasil bumi. Mulai dari buah, sayur dan tanaman apa saja semuanya tumbuh subur di Kabupaten Pasuruan. Kita memiliki pegunungan dan pantai yang kaya akan hasil perikanan dan kelautan,” tegas Iryad kepada Suara Pasuruan.

Menurutnya, tahun 2015 ini, Pemkab Pasuruan akan memprioritaskan pembangunan pada sektor pertanian dan ekonomi kerakyatan. Anggaran pun telah disiapkan khusus untuk mengoptimalkan seluruh hasil pertanian dan pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Yang jelas, sektor pertanian akan kita kembangkan jauh lebih besar lagi. Momennya pas dengan intruksi Presiden Joko Widodo agar setiap daerah mampu mengoptimalkan hasil pertanian, agar Indonesia tak lagi impor buah, sayur dan apapun yang ada sangkut pautnya dengan pertanian,” jelasnya. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...