
Akhir pekan lalu, saya mengunjungi Pemandian Alam Banyubiru di Pasuruan, Jawa Timur. Terletak di Desa Sumberrejo, hanya beberapa menit dari pusat kota, tempat ini cukup populer di kalangan penduduk lokal dan biasanya ramai pada akhir pekan. Meski begitu, begitu sampai di sana, saya langsung merasakan ketenangan yang menyegarkan.
Airnya jernih dengan warna biru kehijauan yang lembut, seolah memantulkan langit di atasnya. Saya sempat berdiri di tepi kolam, menikmati cahaya matahari yang menari di permukaan air. Sumber mata air alami membuat air tetap sejuk sepanjang tahun, menjadikannya tempat yang pas untuk bersantai dan sejenak melupakan kesibukan sehari-hari.
Di sekitar kolam, terdapat beberapa sisa ukiran batu dan bangunan kecil yang menunjukkan bahwa Banyubiru kemungkinan dulu merupakan patirtaan, atau tempat pemandian suci pada zaman dahulu. Kehadiran ikan-ikan besar sengkaring yang berenang anggun menambah suasana tenang. Penduduk setempat percaya bahwa ikan-ikan ini adalah penjaga mata air, sehingga tempat ini terasa memiliki pesona mistis yang lembut.
Meski kaya sejarah dan keindahan alam, Banyubiru tetap mudah dinikmati. Tersedia area istirahat dan tempat piknik sederhana sehingga pengunjung dapat menikmati alam dengan nyaman. Melihat anak-anak bermain di bagian dangkal sambil orang-orang lain duduk menikmati kolam membuat saya sadar bahwa tempat ini menawarkan keseimbangan antara aktivitas dan ketenangan.
Saat meninggalkan Banyubiru, saya menyadari bahwa tempat ini lebih dari sekadar kolam yang indah. Banyubiru adalah ruang untuk berhenti sejenak, merenung, dan terhubung dengan alam. Di antara cahaya matahari yang menari di permukaan air dan kesunyian yang menyelimutinya, Banyubiru terasa seperti sebuah sanctuary kecil, kesempatan langka untuk melambat dan menikmati ketenangan.
Between Sunlight and Silence: The Soul of Banyubiru

Last weekend, I decided to take a break from the city and visit Banyubiru Underwater in Pasuruan, East Java. It's this quiet spot in Desa Sumberrejo, not far from the city center, and honestly, I had no idea it would feel so peaceful. Even though it's quite popular on weekends, the moment I arrived, I immediately felt a sense of calm I didn't expect.
The water is unbelievably clear, a soft turquoise that seems to mirror the sky. I found myself just standing at the edge, watching the gentle ripples reflect sunlight, and for a while, it felt like time had slowed down. The spring feeds the pool naturally, so the water stays cool all year. There's something about that clarity and calmness that makes it hard to leave your thoughts behind.
While walking around, I noticed some stone carvings and small structures scattered near the water. From what I learned, Banyubiru might have been a sacred bathing site centuries ago. And then there are the fish, the ikan sengkaring. Big, graceful, and almost majestic as they glide through the water. Local people say they are the guardians of the spring, which made the whole place feel a little magical, like it's alive in its own quiet way.
Even with its history and myths, Banyubiru feels friendly and approachable. There are simple rest areas and spots for picnics, so families and friends can come and enjoy nature without any fuss. I saw kids laughing in the shallow parts while others just sat by the edge, dipping their feet in, watching the sunlight dance across the water. I tried to do the same, just sit, breathe, and let everything slow down.
By the time I left, I realized Banyubiru isn't just a beautiful pool. It's a place to pause, to reflect, and to feel the world around you in a way you don't get in the city. Between the sunlight on the water and the quiet that surrounds it, I felt like I had found a small piece of peace, the kind you carry with you even after leaving.
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini