Arjuno-Purwosari: Menyusuri Jejak Transisi Singosari hingga Kejayaan Majapahit di Bumi Pasuruan - DISBUDPAR Kabupaten Pasuruan

Arjuno-Purwosari: Menyusuri Jejak Transisi Singosari hingga Kejayaan Majapahit di Bumi Pasuruan

30x dibaca    2026-04-17 17:05:00    Administrator

202604/938-69e2061a0ea1a.jpg

PASURUAN - Gunung Arjuno tidak hanya menjadi ikon kegagahan alam yang terlihat jelas dari kejauhan. Bagi Kabupaten Pasuruan, lereng Arjuno, khususnya melalui jalur Tambaksari, Kecamatan Purwosari, adalah museum terbuka yang menyimpan bukti arkeologi tentang sejarah Nusantara. Di wilayah ini, pengunjung dapat menikmati keindahan Lembah Kidang, keasrian Hutan Lali Jiwo, hingga kepulan asap Kawah Welirang yang memberikan manfaat melalui sumber daya belerangnya. Di balik rimbunnya hutan dan dinginnya kabut, tersimpan jejak-jejak peradaban masa peralihan dari Kerajaan Singosari menuju puncak kejayaan Majapahit.

Jalur pendakian Arjuno via Purwosari sering disebut sebagai 'jalur religi' karena keberadaan rangkaian situs purbakala yang tersebar dari ketinggian rendah hingga mendekati puncak. Penamaan ini didasari oleh peran strategis wilayah Pasuruan pada masa lampau sebagai kawasan Mandala Kadewaguruan, yakni sebuah tempat suci untuk pendidikan spiritual dan pertapaan para bangsawan serta resi. Kawasan ini menjadi saksi bisu masa sulit pasca-runtuhnya Singosari, di mana para pelarian dan penekun spiritual membangun basis nilai yang kemudian menjadi pilar kebudayaan Majapahit.




Kekayaan sejarah yang sarat makna ini kini terdokumentasikan dengan mendalam melalui karya photobook berjudul "Tapak Majapahit Gunung Arjuno" hasil dedikasi Fido Wahyu Saputra, seorang mahasiswa Pasuruan yang mengangkat nilai-nilai sejarah Arjuno sebagai tugas akhir skripsinya. 


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan mengapresiasi upaya pendokumentasian ini sebagai langkah krusial dalam pelestarian budaya. Melalui visual yang kuat, kita diajak menyelami beberapa peninggalan penting yang terekam:


Wahyu Makutoromo: Sebuah altar suci yang diyakini sebagai tempat turunnya ajaran kepemimpinan Hasto Broto yaitu kepemimpinan berlandaskan delapan sifat alam (matahari, bulan, bintang, mendung, bumi, samudra, api, dan angin).

Candi Sepilar: Struktur punden berundak yang menjadi gerbang spiritual. Namanya merujuk pada filosofi "Sepi ing Nalar", ajakan untuk menyucikan pikiran sebelum menghadap Yang Maha Kuasa.

Arca Dwarapala & Kolo Srenggi: Patung penjaga wilayah sakral yang melambangkan perlindungan dan kewaspadaan terhadap pengaruh buruk sekaligus penanda batas kawasan suci.

Arca Semar & Arca Lesung: Representasi gaya seni Neo-Megalitik khas Majapahit akhir, di mana sosok Semar hadir sebagai pamong dan penasihat spiritual yang bijaksana.




Karya Dokumentasi ini mengingatkan masyarakat bahwa Gunung Arjuno bukan sekadar tujuan wisata minat khusus atau pendakian semata, melainkan aset kebudayaan nasional yang sangat berharga. Transisi Singosari-Majapahit yang terekam di sini menunjukkan betapa pentingnya posisi geografis dan nilai historis lereng Arjuno dalam membentuk jati diri daerah. 

Di tengah gempuran modernitas, bukti-bukti fisik sejarah ini rentan terhadap kerusakan alam maupun gangguan manusia, sehingga kesadaran untuk menjaga kebersihan dan kelestarian situs menjadi sangat mendesak. Melalui narasi visual ini, diharapkan generasi muda dapat lebih menghargai kekayaan sejarah lokal dan memastikan kebijaksanaan para pendahulu tetap hidup selaras dengan kelestarian alam Pasuruan.

Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini