Hari Purbakala 2026: Menelusuri Jejak Peradaban yang Masih Hidup di Kabupaten Pasuruan - DISBUDPAR Kabupaten Pasuruan

Hari Purbakala 2026: Menelusuri Jejak Peradaban yang Masih Hidup di Kabupaten Pasuruan

48x dibaca    2026-06-14 10:10:00    Administrator

202606/942-6a2e1acbd1476.jpg

Pasuruan - Di lereng Gunung Arjuno hingga di tengah permukiman warga, tersimpan jejak-jejak peradaban yang telah bertahan selama ratusan bahkan ribuan tahun. Candi, prasasti, petirtaan, arca, dan berbagai situs kuno menjadi bukti bahwa wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Pasuruan pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Nusantara.

Jejak masa lalu tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar cerita yang tertulis dalam buku. Sejarah juga hadir dalam bentuk warisan budaya yang masih dapat disaksikan hingga saat ini. Momentum Hari Purbakala yang diperingati setiap tanggal 14 Juni menjadi saat yang tepat untuk kembali mengenal dan menghargai peninggalan bersejarah yang tersebar di berbagai penjuru Kabupaten Pasuruan.

Hari Purbakala sendiri diperingati untuk mengenang berdirinya Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indià atau Jawatan Purbakala pada 14 Juni 1913. Lembaga tersebut menjadi tonggak awal pelestarian dan penelitian peninggalan purbakala secara sistematis di Indonesia. Lebih dari satu abad kemudian, semangat pelestarian itu terus berlanjut melalui berbagai upaya perlindungan dan pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber pengetahuan dan identitas bangsa.

Pasuruan dalam Lintasan Sejarah Nusantara

Kabupaten Pasuruan menyimpan berbagai tinggalan budaya yang berasal dari masa kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Salah satu bukti terpenting adalah Prasasti Cunggrang di Kecamatan Gempol yang dibuat pada tahun 929 Masehi atas perintah Mpu Sindok, pendiri Dinasti Isyana. Prasasti ini menjadi salah satu sumber sejarah penting yang mencatat keberadaan wilayah Pasuruan pada masa Mataram Kuno dan menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan.


Jejak sejarah berikutnya dapat ditemukan pada Petirtaan Belahan atau yang lebih dikenal sebagai Candi Sumber Tetek. Situs yang berkaitan dengan Raja Airlangga ini menunjukkan pentingnya kawasan Pasuruan dalam perkembangan peradaban Jawa Timur pada abad ke-11. Hingga kini, mata air yang mengalir dari petirtaan tersebut masih dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.


Memasuki masa Kerajaan Singhasari, Pasuruan kembali meninggalkan warisan berharga melalui Candi Jawi di Kecamatan Prigen. Candi yang dibangun pada masa Raja Kertanegara ini dikenal sebagai salah satu candi paling unik di Jawa Timur karena memadukan unsur Hindu dan Buddha dalam satu bangunan. Berdiri megah di kaki pegunungan, Candi Jawi menjadi simbol toleransi dan perkembangan spiritual masyarakat pada masanya.

Jejak Peradaban di Lereng Gunung Arjuno


Tidak banyak daerah yang memiliki sebaran situs purbakala hingga kawasan pegunungan dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Keunikan tersebut dapat ditemukan di Kabupaten Pasuruan, khususnya di kawasan Gunung Arjuno dan Gunung Ringgit.

Di kawasan ini tersebar berbagai situs kuno seperti Candi Wesi, Candi Lepek, Candi Sepilar, Candi Madrim, Candi Laras, Candi Satrio Manggung, hingga Situs Makutoromo. Sebagian besar berupa punden berundak, altar batu, arca Dwarapala, serta struktur pemujaan yang menunjukkan bahwa kawasan pegunungan pernah menjadi ruang spiritual penting pada masa lalu.

Keberadaan situs-situs tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa lampau memanfaatkan kawasan pegunungan sebagai tempat ritual, pemujaan, dan aktivitas keagamaan. Hingga kini, banyak dari situs tersebut masih terawat dan menjadi bagian dari kekayaan cagar budaya Kabupaten Pasuruan.

Warisan yang Masih Menyimpan Cerita


Selain bangunan dan struktur kuno, Pasuruan juga memiliki berbagai artefak bersejarah yang menjadi saksi perkembangan budaya masa lalu. Arca Ganesha di Kecamatan Gempol menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu pada zamannya. Di Kecamatan Pandaan, terdapat Situs Watu Banteng yang menyimpan Arca Nandi, kendaraan suci Dewa Siwa yang menjadi simbol penting dalam tradisi Hindu.

Sementara itu, berbagai temuan lain seperti arca Dwarapala, lingga, yoni, batu dakon, gentong batu, hingga fragmen bangunan kuno memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat masa lampau. Bagi para arkeolog, setiap artefak tersebut merupakan potongan informasi yang membantu menyusun kembali cerita tentang peradaban yang pernah berkembang di wilayah Pasuruan.

Merawat Warisan, Menjaga Identitas

Hari Purbakala bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa warisan budaya merupakan bagian dari identitas yang perlu dijaga bersama.

Setiap candi, prasasti, arca, dan situs yang masih berdiri hingga hari ini adalah bukti nyata perjalanan panjang masyarakat yang pernah hidup dan membangun peradaban di tanah Pasuruan. Tanpa upaya pelestarian, jejak-jejak tersebut dapat hilang dan tidak lagi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada momentum Hari Purbakala tahun ini, mari bersama-sama mengenal, menghargai, dan menjaga warisan budaya yang ada di sekitar kita. Sebab, merawat peninggalan masa lalu berarti menjaga identitas dan memori kolektif bangsa untuk masa depan.



Biro Pemasaran 

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 


Instagram : @disbudparkabpas

TikTok : @disbudparkabpas

Wa : 08133181440

Web : https://disbudpar.pasuruankab.go.id/ 

Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini