Kolaborasi dan Keberlanjutan Jadi Fokus Rakornas Pariwisata 2026 - DISBUDPAR Kabupaten Pasuruan

Kolaborasi dan Keberlanjutan Jadi Fokus Rakornas Pariwisata 2026

6x dibaca    2026-05-25 12:40:00    Administrator

Kolaborasi dan Keberlanjutan Jadi Fokus Rakornas Pariwisata 2026

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mendorong transformasi ekosistem kepariwisataan nasional menuju pariwisata yang berkualitas, tangguh, dan berkelanjutan pada 2026. Langkah tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 yang digelar pada 20-21 Mei 2026 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta. 

Rakornas yang mengusung tema "Transformasi Ekosistem Kepariwisataan Nasional Menuju Pencapaian Tahun 2026" itu menghadirkan seluruh deputi di lingkungan Kemenpar, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, asosiasi, akademisi, hingga pelaku industri pariwisata.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, dalam sambutannya pada pembukaan Rakornas Pariwisata 2026 menyampaikan bahwa pelaksanaan Rakornas tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.

"Momentum Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa pariwisata adalah juga gerakan bersama untuk membangun kebanggaan, kemandirian, dan daya saing bangsa. Di setiap destinasi, tersimpan kekuatan budaya, alam, kreativitas, serta keramahan masyarakat Indonesia yang menjadi modal besar untuk bangkit dan maju," kata Widiyanti.

Ia menjelaskan, Rakornas Pariwisata 2026 menjadi ruang strategis untuk menyusun rencana aksi sekaligus mengevaluasi capaian sektor pariwisata nasional bersama kementerian/lembaga terkait. Upaya tersebut dilakukan untuk mendukung percepatan transformasi ekosistem pariwisata melalui optimalisasi, resiliensi, inovasi, dan keberlanjutan (ORIK) sebagai fondasi pelaksanaan program prioritas tahun 2026.


Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, mengatakan Rakornas menghasilkan berbagai langkah konkret melalui penguatan sinergi antarpemangku kepentingan untuk mendukung pertumbuhan pariwisata nasional.

"Kami juga telah menetapkan skema kinerja untuk 10 Destinasi Pariwisata Prioritas serta memperkuat sinergi melalui berbagai MoU dan Rencana Aksi Bersama sebagai quick wins ke depan," ujar Ni Luh Puspa saat penutupan Rakornas Pariwisata 2026, Kamis (21/5/2026).

Dalam Rakornas tersebut, Kemenpar menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026 mencapai 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan. Selain itu, pergerakan wisatawan nusantara ditargetkan mencapai 1,18 miliar perjalanan dengan devisa pariwisata sebesar 22-24,7 miliar dolar AS serta kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,6-4,7 persen.

Menurut Ni Luh Puspa, target tersebut tidak hanya berorientasi pada angka statistik, tetapi juga pada dampak ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat.

"Pariwisata bukan hanya tentang kunjungan wisatawan, tetapi juga tentang terbukanya lapangan kerja, tumbuhnya ekonomi daerah, dan meningkatnya kebanggaan terhadap pariwisata Indonesia," katanya.

Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, menjelaskan target investasi pariwisata nasional pada 2026 mencapai Rp63,5 triliun sesuai arah RPJMN 2025-2029. Investasi tersebut difokuskan pada tiga destinasi regeneratif dan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP).

Kemenpar menilai pemerataan investasi pariwisata di berbagai daerah masih perlu diperkuat agar potensi destinasi di seluruh Indonesia dapat berkembang secara optimal. Karena itu, pemerintah daerah didorong untuk meningkatkan kesiapan proyek investasi pariwisata, memperkuat infrastruktur dan konektivitas, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui penyederhanaan regulasi dan kepastian hukum.

"Menteri Pariwisata telah meminta kami membuat satu forum di mana nantinya daerah-daerah yang memiliki proyek untuk bisa dipertemukan dengan calon investor," ujar Rizki.

Dalam pengembangan produk industri pariwisata, Kemenpar juga menyoroti enam tren utama wisata global, yakni nature and adventure, eco-friendly tourism, culinary and gastronomy, cultural immersion, wellness tourism, dan bleisure.

"Ada tren-tren yang sedang berkembang di market yang nanti larinya ke produk wisata. Jadi bagaimana dalam membentuk produk wisata, mengaitkan potensi yang ada di daerah dengan tren tersebut," katanya.



Di bidang pemasaran, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menjelaskan kondisi geopolitik global turut memengaruhi pergerakan wisatawan mancanegara, terutama dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika.

Meski demikian, Kemenpar tetap optimistis terhadap prospek pariwisata Indonesia dengan memperkuat promosi pada pasar regional dan intra-Asia.

"Tapi dari kami di pemasaran harus tetap optimis dan positif. Di setiap krisis pasti selalu ada peluang. Tidak hanya bertahan tetapi juga accelerated," ujar Made.

Made menambahkan wisata berbasis olahraga, kesehatan, dan pengalaman personal kini menjadi segmen yang berkembang pesat. Untuk mendukung promosi digital, Kemenpar juga memperbarui platform indonesia.travel dengan menghadirkan teknologi kecerdasan buatan bernama MaiA guna membantu wisatawan memperoleh informasi perjalanan secara lebih mudah.

"Kami ingin mengajak pemerintah daerah, asosiasi, dan industri untuk berkolaborasi. Penting bagi kita untuk bisa memaksimalkan digital promotion," katanya.



Selain fokus pada pemasaran dan investasi, Kemenpar juga memperkuat aspek sumber daya manusia dan keselamatan wisata. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini Mohamad Paham, mengatakan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan wisatawan menjadi fondasi utama pariwisata berkualitas.

Kemenpar telah menyiapkan berbagai modul pelatihan keselamatan wisata untuk aktivitas berisiko tinggi seperti wisata gunung, wisata tirta, arung jeram, dan snorkeling yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan asosiasi, akademisi, dan praktisi pariwisata.

"Ini pekerjaan rumah yang sangat relate dengan kita sebagai penyedia jasa wisata yaitu kita sebagai SDM-nya," ujar Martini.



Di sisi pengembangan destinasi, Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Reza Fahlevi, menegaskan pentingnya kolaborasi dan manajemen destinasi yang berkelanjutan dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia.

"Ada lima elemen kunci dalam destination management, yakni strategic planning, stakeholder collaboration, sustainability, visitor experience, dan risk management," kata Reza.

Rakornas Pariwisata 2026 juga menyoroti pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam penyelenggaraan event pariwisata. Asisten Deputi Event Internasional Kemenpar, Hafiz Agung Rifai, menyebut sektor event memberikan dampak ekonomi sebesar Rp23,76 triliun sepanjang 2025 dengan lebih dari 12 juta pengunjung.

"Isu keberlanjutan bukan lagi merupakan sebuah nilai tambah, tetapi sudah menjadi ekspektasi pasar," ujar Hafiz.

Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan, Kemenpar bekerja sama dengan Jejak.in untuk menghitung emisi karbon selama Rakornas berlangsung. Total emisi karbon tersebut akan diimbangi melalui penanaman ribuan pohon di sejumlah daerah di Indonesia.

Melalui Rakornas Pariwisata 2026, Kemenpar berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat kolaborasi dan sinergi guna mewujudkan pariwisata Indonesia yang inklusif, inovatif, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah tantangan global.


Sumber: Kementerian Pariwisata Republik Indonesia


Biro Pemasaran 

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 


Instagram : @disbudparkabpas

TikTok : @disbudparkabpas

Wa : 08133181440

Web : https://disbudpar.pasuruankab.go.id/ 



Komentar (0)

  1. Belum ada komentar

Tulis Disini