UPACARA UNAN-UNAN (MAYU BUMI) - DISBUDPAR Kabupaten Pasuruan

UPACARA UNAN-UNAN (MAYU BUMI)

529x dibaca    2024-05-06 09:06:05    Administrator

202405/911-66383acbe0c96.jpg

Pengertian istilah Unan-unan dapat dipahami melalui makna yang terkandung dalam Upacara Unan-unan itu sendiri. Unan-unan berasal dari kata Una (Bahasa jawa kuna) yang berarti kurang, Jadi Unan-unan itu bermakna mengurangi, pengertian mengurangi adalah mengurangi perhitungan Bulan/Sasi dalam satu tahun pada waktu jatuh tahun Panjang (tahun landhung). Upacara Unan-unan dilakukan setiap lima tahun sekali. Siklus perjalanan wuku terdiri dari dua ratus sepuluh hari. Nama hari dalam satu wuku ( minggu) berumur tujuh hari dengan istilah RADITE, SOMA, ANGGARA, BUDA, WRESPATI, SUKRA, TUMPEK/SANISCARA. Nama pasaran LEGI, PAHING, PON, WAGE, KLIWON. Panduan antara hari dalam wuku dan hari dalam pasasran dan tanggal atau panglong, menghasilkan tiga puluh paduan. Beberapa nama hasil paduan wuku hari pasaran dan tanggal ataupun panglong pada Bulan/Sasi tertentu dianggap sebagai "DINA MECAK" atau nguna ratri yang pada hari tersebut dua tanggal yang berurutan disatukan, maka pada bulan tersebut hanya terdiri dari dua puluh Sembilan hari. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa purnama akan jatuh pada tanggal lima belas (15) dan tilem jatuh pada panglong lima belas (15). Hal tersebut atas dasar kenyataan bahwa lama peredaran bulan dalam satu tahun adalah 354 hari, 8 jam, 48 menit, 36 detik (354,34 hari) sehingga satu bulan itu sebenarnya hanya 29 hari, 12 jam, 4 4 menit, 36 detik +_( 29, 54 hari).

Pada dasarnya kalender tahun Saka itu mengikuti perputaran Surya/Matahari, oleh karena perhitungan hari untuk tiap bulannya mengikuti perputaran Candra/Bulan agar sesuai dengan peredaran Surya/Matahari, maka diadakan penyesuaian setiap lima tahun peredaran Candra. Penyesuaian itu dilakukan pada Bulan/Sasi KADHESTA, KARO, KALIMA TAHUN SAKA, yang pada bulan tersebut ada Bulan/Sasi yang dihilangkan atau di Una (nguna sasi) pada waktu itulah digunakan untuk pelaksanaan upacara "Unan-unan" andai kata Unan-unan jatuh pada Sasi Kadhesta maka Kadhesta den Kasepuluhaken artinya Sasi Kadhesta dijadikan Sasi Kasepuluh. Jatuh pada Sasi Karo, maka karo den kinasakaken artinya Sasi Karo dijadikan Sasi Kasa. Jatuh pada Sasi Kelima, maka Kelima den Kinapataken artinya Sasi Kelima dijadikan Sasi Kapat. Sesuai dengan kenyataan tersebut maka pengertian Unan-unan adalah merupakan usaha untuk menyesuaikan atau melinggihkan (nglungguhaken tahun nguna sasi) tahun berikutnya dari perhitungan perputaran Candra/Bulan kepada perputaran Surya/Matahari yang disertai dengan ritual.

Masyarakat Suku Tengger dalam menentukan hari-hari baik dalam rangka melakukan upacara ritual, baik upacara yang dilakukan secara Bersama-sama/kumunal, maupun yang dilakukan secara pribadi/individual berpedoman pada kalender yang berpolakan penggabungan tahun Surya tahun Candra dan Wuku atau disebut SURYA CANDRA PERMANA, umur tahunnya ada dua macam, tahun panjangnya berumur tiga belas (13) bulan Candra, sedangkan pola tahun wukunya dipakai untuk dasar penetapan Purnama - Tilem yang dinamakan PANGALANTAKA, ini khusus hanya dipergunakan Kalender Tengger. Selama dalam tahun Panjang atau tahun landhung yang biasa disebut TAHUN PAHING, MASYARAKAT Suku Tengger tidak diperkenankan melaksanakan ritual-ritual yang sangat besar yang sifatnya ritual pribadi/individual. Ada tiga hal pokok yang tidak boleh dilakukan, antara lain :

1.      Tidak boleh memukul/nuthuk lambang sunan artinya tidak boleh mendirikan bangunan rumah permanent.

2.      Tidak boleh menggelar daun petra/mbeber godhong, artinya tidak boleh mengundang para leluhur atau para Atma, shingga dengan demikian juga tidak boleh melaksanakan Walagara Pungaran,

3.      Tidak boleh membunyikan gentha/nguneken gentha, artinya tidak boleh melaksanakan upacara Entas-entas.

Tahun Panjang atau tahun landhung juga disebut tahun Pahing, adal;ah merupakan tahun dimana terjadi tidak keseimbangan alam, baik secara sekala maupun secara niskala. Tahun Panjang adalah juga merupakan tahun mala masa/tahun tidak baik untuk melakukan ritual-ritual penting. Oleh karena itu patutlah kiranya bagi masyarakat Suku Tengger tidak melakukan ritual-ritual sebagaimana tersebut diatas. Upacara Unan-unan merupakan kegiatan ritual untuk mengadakan penyucian bersih desa, yaitu membebaskan desa dari gangguan makhluk halus (butakala) atau sebagai tolak- balak. Disamping itu Unan-unan digunakan pula untuk permohonan penyucian dan terhidar dari segala penyakit dan penderitan, serta terbebas dari segala malapetaka. Didalam kehidupannya, hidup sejahtera dan terbebas dari musuh dan gangguan lainnya. Termasuk didalamnya adalah penyucian bagi para atma nenek moyang/leluhur yang mash belum sempurna di alam sesudah kematian fisik/loka jati pralina. Untuk membebaskan dari segala gangguan dimohonkan ampunan agar lepas dari beban ikatan asuba karmanya dan selanjutnya dapat Kembali ke alam asal yang lebih sempurna, yaitu Nirwana. Nirwana merupakan tempat terakhir bagi atma manusia yang telah tersucikan dari segala dosa dan noda, dan yang telah diterima oleh Sang Hyang Maha Agung/Tuhan Yang Maha Esa.

Upacara Unan-unan dilaksanakan di "SANGGAR PUNDEN" sebagai puncak acara. Dengan cara ini masyarakat Tengger terbebas dari penderitan, Kembali kepada kesucian dan terhindar dari segala mala petaka, maka kehidupan menjadi sejahtera, aman dan tentram. Suatu kekhususan pada Upacara Unan-unan adalah dengan mengorbankan kerbau yang dagingnya digunakan sebagai kelengkapan sesajen yang disebut KALAN. Kerbau dalam Bahasa jawa kuna disebut MAHISA. Mahi artinya Dunia besar atau wujud yang Agung. Isa artinya yang berkuasa, nama Tuhan.

     Jadi dalam rangka Upacara Unan-unan menggunakan korban kerbau, adalah dikarenakan kerbau merupakan binatang yang mempunyai karakter/kepribadian yang agung, kuat dan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kerbau secara mitologi sebagai tunggangan BATHARA YAMA, Dewa keadilan. Upacara Unan-unan itu secara spiritual bermakna sebagai berikut :

1.      Untuk melengkapi segala kekurangan lahir batin seperti yang tersirat pada penyesuaian jumlah hari tahun saka yang dihitung dengan peredaran Candra ke peredaran Surya ;

2.      Untuk membersihkan desa dari segala noda, dan sebagai tolak-balak terhadap segala mala petaka;

3.      Menjauhkan berbagai gangguan makhluk halus (buta kala) ;

4.      Memohonkan ampunan bagi para atma nenek moyang/leluhur masyarakat Tengger dan

5.      Memohonkan keselamatan bagi masyarakat Tengger serta keselamatan alam semerta pada umumnya.

Makna tersebut tersirat dalam inti mantra yang diucapkan oleh "PANDITA DUKUN" pimpinan Upacara Unan-unan. Seluruh inti mantra itu terdiri dari delapan buah satuan/lanjaran yang masing-masing dibuka dengan kata "HONG PUKULUN" dan ditutup dengan "PINIKA PUKULUN". Makna mantra Unan-unan tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut :

Mantra pertama itu merupakan permohonan agar terbebas dari segala penderitan, serta hati nuraninya menjadi bersih dan suci Kembali. Disamping itu merupakan permohonan untuk mendapatkan keheningan kesadaran, dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Suci, agar terhindar dari segala balak sengkala dan bencana, Hong Pukulun, Ya Tuhan.

Isi permohonan adalah sebagai berikut :

(1) Untuk penyempurnaan perhitungan tahun Saka dari siklus peredaran bulan ke siklus peredaran matahari dibarengi dengan persembahan berupa korban Kerbau/Mahisa, sesaji serba seratus, muatan/mamratan serba seratus. (2) Pras manca lima,liwet manca lima, dan gubahan alus, agar umat manusia terhindar dari segala penderitan. (3) Persembahan sesaji gegenep untuk permohonan bagi keselamatan umat manusia seluruh dunia dengan dibarengi sesaji gedhang ayu, suruh ayu, jambe ayu dapat diterimadengan kesucian.


Mantra yang digunakan bersumberkan dari mantra Purwa Bumi Kamulan, yang berisi penciptaan jagad raya. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dengan segala isinya termasuk umat manusia. Tuhan menciptakan ruang angkasa dan tata waktu. Disamping itu atas kekuasaan-Nya, Tuhan menciptakan para Dewata dengan segala tugas kewajibannya, dan menciptakan makhluk halus yang sering mengganggu manusia. Bahkan sesama manusia pun dapat saling mengganggu.

Dengan Upacara Unan - unan atau Mayu Bumi (Amrastita Bumi) itu dimohonkan agar manusia terbebas dari penderitan, noda dan dosa, mohon memperolen jalan yang benar, menjadi manusia kuat dan berwibawa, mohon memperoleh kesejahteraan dan kedamaian, serta terbebas dari segala macam gangguan, bermakna pula agar para arwah leluhur mendapatkan pengampunan dan mendapat tempat di Nirwana. Disamping itu melalui Upacara Unan - unan bermakna pula agar umat manusia seluruh dunia (sak Lumahing Bumi sak Kureping Langit) mendapatkan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian abadi.


 

Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini